kufur nikmat
Ceramah
A
Agus Muslim
3 Mei 2026
5 menit baca
0 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: {لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ} (سورة إبراهيم: 7).
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Alhamdulillahirobbil 'alamin. Sholawat serta salam senantiasa kita curahkan kehadapan junjungan alam, Nabi besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Yang terhormat Bapak KH. [Nama Ulama/Tokoh], Bapak Kyai [Nama Ulama/Tokoh], Bapak Ustadz, Ibu Ustadzah, para alim ulama, tokoh masyarakat di lingkungan kita, serta seluruh jama'ah ibu-ibu pengajian yang saya cintai karena Allah. Sungguh suatu kehormatan bagi saya bisa hadir di tengah-tengah antunna hari ini, berkumpul dalam majelis yang mulia ini. Mari kita tingkatkan rasa syukur kita kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah mempertemukan kita dalam keadaan sehat wal afiat, serta memberikan kita kesempatan untuk menimba ilmu dan mempertebal keimanan kita.
Hari ini kita akan membahas sebuah tema yang mungkin sering kita dengar, tapi kadang luput dari perhatian kita. Sebuah penyakit hati yang halus namun bisa menghancurkan segalanya, yaitu "Kufur Nikmat". Aduh, ngomongin kufur nikmat ini kadang bikin kita deg-degan ya, Bu. Takut-takut tanpa sadar kita sudah termasuk di dalamnya.
Ibu-ibu sekalian, coba kita renungkan sebentar. Kita ini hidup serba ada. Pagi bangun tidur, ada kasur empuk. Dulu mungkin tidur beralaskan tikar pandan, kalau hujan masuk angin, kalau kemarau debu beterbangan. Sekarang? Kasur springbed tiga tingkat, bantal guling sampai tiga, belum lagi AC yang bikin adem kayak di kutub utara! Tapi kadang masih ada yang ngomel, "Aduh, AC-nya kok dingin banget ya, jadi ngantuk." Nah loh! Itu kan nikmat luar biasa, tapi kok rasanya kurang nyaman?
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 7: {لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ} yang artinya: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Jadi, kalau kita sering ngomel dikit-dikit, mengeluh sana-sini, padahal nikmat Allah banyak, itu tandanya kita sedang mengarah ke kufur nikmat. Beda ya sama ngeluh pas lagi ujian hidup, itu memang manusiawi. Ini ngeluh pas lagi enak-enaknya. Contoh gampangnya, kita ini punya suami (bagi yang sudah menikah, hehe). Kadang suka lupa ya, betapa gantengnya beliau dulu waktu pacaran, pas diajakin jalan selalu siap, pas disuruh ngapain aja nurut aja. Tapi setelah menikah, apalagi kalau sudah beranak pinak, kadang kalau disuruh buangin sampah aja bisa dibilang, "Aduh, Mas, kok kayak babu banget sih?" Nah loh! Ke mana perginya rasa syukur dulu? Dulu kan dia yang dipilih, yang dilihat kelebihannya. Sekarang kok malah ditunjukin kekurangannya, bahkan diplesetin jadi "babu"? Duh, hati-hati, Bu!
Kufur nikmat itu banyak bentuknya, Bu. Ada yang terang-terangan, ada yang halus banget. Contoh yang halus itu, ketika kita dikasih rezeki, tapi kita merasa itu karena usaha kita sendiri saja, tanpa mengakui campur tangan Allah. Padahal, usaha paling maksimal pun belum tentu menghasilkan kalau Allah tidak mengizinkan. Itu seperti garam yang ditabur di laut, kan nggak bikin asin lautnya kan?
Kita ini seringkali seperti kacang lupa kulitnya. Lupa sama perjuangan orang tua dulu yang banting tulang buat nyekolahin kita, lupa sama teman yang dulu pernah nolongin kita pas lagi susah, lupa sama tetangga yang suka nawarin sambel pas kita lagi laper. Dulu pas susah, jangankan nawarin sambel, nawarin air minum aja bangga. Sekarang pas sudah punya stok sambel segudang di kulkas, yang tetangga lewat aja nggak diliatin. Nauzubillah...
Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah berkata, "Syukur itu adalah memandang nikmat itu datangnya dari Allah semata." Jadi, kalau kita dapat pujian cantik, coba deh dalem hati, "Alhamdulillah, Allah yang bikin cantik." Kalau dapat rezeki nomplok, "Alhamdulillah, Allah yang kasih rezeki." Jangan sampai kita lupa, semua itu titipan dan karunia dari Allah.
Ingat cerita Rasulullah ﷺ tentang seorang sahabat yang hartanya berlimpah ruah, tapi dia seringkali merasa kurang. Padahal bajunya sutra, rumahnya megah, makanannya enak-enak. Suatu hari, ada orang miskin yang datang minta-minta. Si kaya ini kemudian memberikan sedikit hartanya, tapi sambil bergumam, "Ya Allah, kok habis ya? Padahal aku belum pernah merasakan jadi orang susah." Padahal, kekayaannya itu berkat doa dan dukungan banyak orang yang dulu pernah disayanginya.
Nah, bagaimana cara kita menghindari kufur nikmat ini, Bu? Pertama, perbanyak dzikrullah, ingat Allah dalam segala situasi. Kedua, biasakan lisan ini untuk selalu mengucap syukur. Ucapkan terima kasih kepada Allah, kepada suami, kepada anak, kepada siapapun yang berbuat baik pada kita. Ketiga, ingatlah selalu ada orang lain yang kondisinya di bawah kita. Liatlah orang yang lebih susah, insya Allah hati kita akan lebih lapang dan bersyukur. Coba deh, kalau lagi kesel sama suami, inget inget dulu waktu dia jadi pacar idaman. Kalau lagi kesel sama anak, inget inget dulu waktu dia masih bayi lucu.
Ibu-ibu yang dirahmati Allah, jangan sampai kita menjadi "cendana membakar diri", alias berharta tapi tidak bisa menikmati karena hati yang tidak pernah merasa cukup. Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung kekurangan, sampai lupa menghitung kelebihan yang Allah berikan. Ingatlah, Allah itu Maha Pemberi, dan Dia sangat mencintai hamba-Nya yang pandai bersyukur. Kitalah hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur, bukan? Ya, harus dong!
Mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua, terutama bagi saya pribadi, agar senantiasa menjadi hamba yang pandai bersyukur atas setiap nikmat yang Allah curahkan. Jangan sampai kita menyesal nanti di akhirat karena di dunia kita lupa bersyukur.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak, Ibu semua. Mohon maaf apabila ada tutur kata yang kurang berkenan, karena kesempurnaan hanya milik Allah.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.